Sabtu, 25 Juli 2015

The Book Thief (2013)


Kebetulan selama libur lebaran ini gw menghabiskan waktu dengan menonton beberapa film berlatar belakang Nazi Jerman. Baik yang sudah pernah ditonton mau pun yang baru pertama kali gw tonton. Kesemuanya bukanlah film perang, hanya berlatar belakang perang. Salah satunya The Book Thief ini...

Kisah dibuka dengan dipungutnya Liesel Meminger oleh keluarga Hubermann yang tak memiliki anak, Hans dan Rosa Hubermann. Liesel dipungut atas alasan tunjangan dari pemerintah. Liesel sendiri terlepas dari ibu kandungnya karena tuduhan komunis. Mereka tinggal di sebuah gang dengan kondisi serba kekurangan, menjelang meletusnya Perang Dunia II.

Kehadiran Liesel sebagai anggota baru keluarga Hubermann menarik perhatian Rudy, anak tetangga. Mereka sebaya, sama-sama belum dua belas tahun. Segera saja Rudy menempel "gadis tetangga" ini. Selalu membarengi setiap pergi ke sekolah. Rudy terobsesi menjadi pelari internasional. Idolanya Jesse Owen, atlet kulit hitam. Saking mengidolakannya, Rudy sampai mencoreng-coreng kulitnya dengan cat supaya terlihat hitam. Suatu tindakan bodoh di zaman serba rasis itu.

Menarik melihat kisah anak-anak Jerman di zaman itu, ketika pemerintah dengan gencar mempropagandakan ide-ide ngawurnya, diamini rakyatnya tanpa sedikit pun keberanian menentang. Liesel dan Rudy "dipaksa" menghafalkan lagu-lagu wajib sekolah yang liriknya dipenuhi kebencian pada ras lain selain Arya (celakanya, terdengar indah). Tentu saja terhadap ideologi lain juga, termasuk komunis, yang membuat Liesel menjadi teringat ibu kandungnya.

Film ini (atau novelnya) diberi judul "Pencuri Buku" karena keinginan kuat Liesel untuk dapat membaca. Ia amat menyenangi buku, sementara untuk membeli tentu sulit bagi keluarga seperti mereka. Liesel sudah mencuri buku sebelum ia mampu membaca. Hans yang menyadari keinginan kuat putrinya memberikan ruang khusus bagi Liesel untuk belajar, yaitu di ruang bawah tanah rumah mereka. Liesel belajar dengan tekun meski kemudian keluarga mereka menyembunyikan pelarian Yahudi di ruangan itu. Tetapi dari Yahudi itu pula Liesel banyak menerima pengetahuan baru...

Film ini menjadi menarik karena juga merekam pandangan anak-anak terhadap kondisi sosial politik mereka. Hanya, kalo boleh ngeritik, setidaknya ada dua adegan yang seharusnya gak perlu ada.
Pertama, Ibu sampai harus datang ke sekolah untuk "membisiki" Liesel bahwa Yahudi yang mereka sembunyikan telah sembuh dari sakitnya. Mereka memang amat menyayangi si Yahudi. Tetapi bukankah kabar baik itu bisa ditunggu saja sampai Liesel pulang ke rumah? Kenapa harus menempuh resiko didengar oleh orang lain dengan bertemu di sekolah?

Kedua, Hans, meski sudah tua ia tetap diwajibkan mengikuti wajib militer. Ia bergabung dengan banyak anak-anak muda dan malah jadi bahan olok-olok. Ia akhirnya dipulangkan setelah truknya terkena ledakan, meski secara fisik ia baik-baik saja. Rasanya ini hanya memperpanjang durasi film saja...



Tetapi overall film ini tetap menarik diikuti, terutama bagi pecinta drama berlatar sejarah....

Haruskah Ilustrator Diperlakukan "Kejam"?


Orang bilang, dunia sepak bola adalah bisnis yang paling kejam di dunia ini. Setidaknya untuk saat ini. Seseorang bisa dikontrak hari ini, dipecat besoknya, dikontrak lagi di hari berikutnya, dan berakhir pada pemecatan lagi. Pemilik modal biasanya berlindung pada payung bernama "profesionalisme". Kata "profesionalisme" ini bermakna jauh dari sifat-sifat baik seseorang. Jauh dari persaudaraan, jauh dari pekoncoan, jauh dari nostalgia, jauh dari kesukuan, ras, agama dsb....Hanya satu kata yang bisa disandingkan dengan kata "profesionalisme", yaitu "prestasi". Ada "prestasi" semua beres. Nggak ada "prestasi", ke laut aja...begitu kira-kira...

Tahun 2007 gw bergabung pada perusahaan yg bergerak pada industri kreatif. Produk andalannya ketika itu berupa majalah dan buku-buku untuk anak-anak. Gw bergabung sebagai redaktur di sana, bukan ilustrator. Alhamdulillah, ketika interview gambar gw kurang diminati, sehingga pimpinan redaksinya setengah "memaksa" gw ditempatkan pada divisinya, alih-alih sebagai ilustrator. Kenapa demikian, karena sepintas lihat, gw merasa tak begitu nyaman bekerja sebagai ilustrator. Sejak hari itulah, bermula dari "dijeblosin" pemred, karir panjang gw sebagai penulis dimulai, bukan sebagai pereka gambar.

Ilustrator di sana ketika itu berjumlah (-+) 20 orang, 11 orang peninta, 10 orang colorist, 3 orang layouter dan beberapa desainer. Total jumlah kami dalam satu kantor itu lebih dari 50 orang (bahkan terakhir di sana jumlah kami nyaris 100 orang). Dengan jumlah orang sebanyak ini, tentu merupakan kekuatan besar. Dan mungkin paling besar dalam dunia industri cetak di Indonesia. Menggelinding tiap hari, melumat kiloan kertas dan menggores puluhan liter tinta guna menghasilkan produk unggulan berkat sistem kerja "roda berjalan". Siapa yang bisa menghalangi? Pada saatnya nanti, kami pasti menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah studio besar yang akan dijadikan model oleh studio2 yang lain.

Setelah berlalu delapan tahun, benarkah demikian?

Secara hirarki, redaksi adalah "otak"nya penerbitan. Kebetulan, ketika gw bergabung, tim redaksi kami terdiri dari orang hebat-hebat. Salah satunya Muhammad Yosaf ( mantan Wizard Indonesia). Kami seharusnya komandan dalam sebuah batalion. Tetapi faktanya tak seperti itu...Komandan hanya satu orang di perusahaan itu. Kamu gak boleh angkat dagu hanya karena ada di redaksi, dan gak bisa merasa lebih cerdas karena keluaran kampus. Ilustrator adalah aset utama dalam perusahaan itu, terlepas dari mana asal mereka. Itu tidak penting.

Di majalah Gatra (atau Tempo?) Bung Karno pernah memohon agar seniman yang terlibat gerakan PKI diselamatkan. Karena, untuk mendapatkan seorang seniman itu susahnya minta ampun. Kalo sarjana banyak, tiap tahun berjejal mencari kerja. Kalo seniman? Belum tentu. Jadi, mengamini ucapan proklamotor kita, ilustrator di perusahaan itu adalah "anak emas".

Ngiri? Nyesel? Ternyata tidak juga....

Owner menganakemaskan ilustrator, itu benar. Tapi dia juga waspada akan otak bulus seniman. Dia pelajari betul sampai ke akar-akarnya, apa yang seniman inginkan. Yaitu tak lain dan tak bukan adalah karya pribadi.

Karya pribadi ini, duri dalam daging bagi perusahaan. Yang membuat seseorang tertatih-tatih. Tidak ada darahnya, tapi tak bisa berlari. Oleh karena itu, ia pun membuat beberapa antisipasi.
Pertama, target harian tinggi. Hampir di luar akal. Seorang ilustrator harus menyelesaikan dua halaman A3 dalam sehari. Nggak selesai maka nggak pulang.

Hari kerja termasuk Sabtu, setengah hari. Tujuannya agar mempersempit peluang ilustrator mengerjakan hal lain di luar pekerjaan kantor. Jadi, belum-belum pasti udah "teler" sampai di rumah. Libur satu setengah hari nggak akan efektif digunakan. Belum lagi, hari Minggu diisi dengan keundangan, acara keluarga dll...

Ketika banyak laporan masuk menunjukkan penurunan kinerja, maka jam pulang diundur. Dari biasa pulang maghrib, mundur ke jam sembilan malam. OB ditugasi memesan nasi bungkus untuk makan malam bersama. Benar-benar ketiban rezeki kantin atau warung yang dijadikan langganan. Setidaknya nasi bungkus untuk 50 orang menggelinding masuk ke pelataran parkir perusahaan tersebut, setiap hari!

Bagi ilustrator nakal, maka turun perintah untuk "disekolahkan". Maksudnya, yang lain sudah pulang dia tidak, alias nginep. Owner akan datang jam 11 malam untuk sekedar melihat, dia masih bungkuk di belakang mejanya atau tidak. Jika tidak, gaji adalah taruhannya.

Ketat aturan tetapi kompensasi gaji bagi ilustrator memang nggak main-main. Rata-rata mereka (maaf) bukan keluaran sekolah tinggi. Namun gajinya bisa melampaui mereka yang beruntung memiliki ijazah. Ada dua sistem gaji dalam sebulan, yang kata bokap gw, ini menyontek gaya lama pegawai negeri.

Gaji utama ada di amplop putih (atau rekening). Itu jumlah yang masif, nggak akan diutak-atik. Gaji kedua ada di amplop coklat, kami menyebutnya "brownies". Yang brownies ini jumlahnya bener2 mengacu pada performa kita setiap bulan. Jadi ketika memuaskan, maka browniesnya tebal. Ketika ngeyel dan macam-macam, browniesnya tipis. Bahkan bisa hilang.

Bokap gw menceritakan, yang coklat itu, zaman dia kerja, sering disebut "uang laki". Karena istri biasanya hanya tahu yang putih. Karena para suami biasanya menyetor pada istri setiap habis gajian, maka seringkali suami tak lagi pegang uang lebih. Brownies ini membantu suami untuk bisa punya uang lebih. Meski begitu, setelah belasan tahun kerja, banyak para suami yang sudah kaya tanpa sepengetahuan istri. Tak jarang uang dari amplop coklat ini dijadikan modal untuk mencari istri muda

Salahkah pimpinan perusahaan itu menerapkan aturan di atas?
Sebagian besar dari kita mungkin berkata, "Gila! Gw ogah ada di sana!"
Tetapi kalau mau fair, dia tidak salah juga. Karena apa, karena sifat selfish kita. Sifat narsis kita, yang sering kali menjadi tempat kerja hanya batu loncatan. Kerjaan sebulan molor jadi dua-tiga bulan. Direvisi, alasan macam-macam. Prilaku asal "antar", "ojek" istilah lainnya."Supir taksi" istilah kami, telah membuat banyak orang yang kecewa, kapok dan bersumpah serapah. Coba tanya ke editor2 kalian yang pernah bekerja sama, pasti mereka senyum kecut. Gw memang berada di tengah, seperti tugas redaksi saat itu, menjembatani antara kemauan owner dan kegelisahan ilustrator. Gw sendiri bukan berarti tak pernah jadi sasaran tembak. Tahun 2010 gw menerbitkan Bengal (220hal), yang membuat beberapa atasan gw disemprot.
"Kenapa dia bisa ngerjain komik sendiri?! Pagi ada, siang ada, malam juga ada!" begitu atasan gw cerita. "Kapan bikinnya?"
Ditiup-tiup?

Selasa, 21 Juli 2015

Anak yang "Luar biasa" (1995)


Sebelum ada komunitas komik, komikus kayak gw bisa dibilang berjuang sendirian. Apalagi gw bukan anak seni. Alhasil, setiap selesai ngomik, gw hanya bisa meminta pendapat dari teman-teman dari kalangan kebanyakan. Mereka adalah para tetangga yg biasa nongkrong-nongkrong, ngerokok, gitaran di lapangan. Gw biasa bertemu mereka sepulang dari foto copy dan mereka ingin melihat karya gw. Sekedar iseng, pastinya. Gw tentu saja ga keberatan. Toh, gw memang butuh komentar dari seseorang. Sayangnya sejauh itu komentarnya selalu seragam, "baguuuuuss..." gak lebih.

Karena “kecewa”, gw sempat ngilang dari pandangan mereka. Lebih baik mendengarkan diri sendiri, begitu pikir gw. Hari-hari berikutnya gw memilih segera pulang jika bertemu mereka lagi. Tetapi, setelah sekian lama, gw gak enak juga jika selalu menghindar begitu. Ada baiknya gw beri mereka '"kesempatan" lg, dan siapa tahu secara tak sengaja terlontar pendapat mereka yg benar-benar gw butuhkan.

Salah seorang yang nongkrong2 itu memanggil, kek jagoan. Di luar dugaan, dia bukan ingin melihat karya gw. Dia ingin memberi informasi bahwa di antara mereka ada anak baru dari perumahan sebelah, namanya ET. ET ini katanya mahasiswa seni yg juga senang komik. Teman gw berpikir, mungkin gw bs diskusi dengannya. Kebetulan, jawab gw! Gw senang sekali mendengar hal itu dan langsung titip pesan, jika dia datang tolong kasih tahu bahwa gw ingin bertemu. Akan gw undang ke rumah, kapan aja ET mau.

Singkat cerita, suatu siang ET datang ke rumah. Kami ngobrol banyak tentang seni, terutama anatomi. Sayangnya, dia bukan orang yang enak diajak ngobrol. Bukan gw sombong atau apa, tapi dia terlalu lebay dalam menyikapi sesuatu.
Sebelum bicara dia selalu membuka komentarnya dengan kata-kata seperti "Ciiiiieeeeeeeeee.....!" atau "Weeeiiiiiisssssssssssssss....!"

Ketika pertama kali gw sodorin karya gw, "Kereeeeeen, " serunya, padahal belum benar2 liat!
Terus ketawa ngakak, padahal gak ada yang pantas untuk ditertawakan. Ketika pembokat gw kasih minum dan gorengan buatan sendiri, dia puji-puji rasanya setinggi langit. Setinggi langit, hanya untuk gorengan....
Gw sedih banget...Gw mulai berpikir bahwa gw akan sendiri lagi.

Tapi setelah ia melahap gorengan, tiba-tiba dia konsen banget. Lalu kritik-kritik tajam secara brutal meluncur bak torpedo. Seolah dia tahu jika gw mulai meremehkannya.
Dia bilang, cara bikin wajah tuh gini! Jarak antar mata, hidung, mulut..., lalu tinggi cowok tuh sekian, cewek sekian!

"Ini! Tangan nih cewek, kegedean, Bay!" katanya tanpa segan. "Tangan cewek tuh jenjang! Ga padat gini!" jelasnya sambil mengencangkan lengan.
Banyak sekali kritik yg dilontarkan yang membuat gw shock abis. Muka gw merah karena malu. Tp gw tahan aja, karena dah janji sama diri sendiri, harus menghargai orang yg sudah mau mengapresiasi. Ibarat petinju, gw petinju yang masih dipukuli setelah bel berbunyi. Benar-benar mabok pukulan. Sudah pasti marah dan tersinggung, tp tak berdaya.

Malam itu juga gw terus memikirkannya. Benarkah semua kritiknya? Masih terngiang komentar dari teman-teman dulu yang justru kebalikan dari komentar ET. Siapa yg bohong, teman-teman atau ET? Gw coba kuatkan diri untuk menerima ET sebagai pihak yang benar ! Gw ga boleh terjebak dalam kebodohan dan mabok oleh pujian teman-teman. Akhirnya, sampai pagi gw revisi semua gambar gw seperti yang ET bilang. Dan benar, setelah gw revisi, semuanya berubah. Wawasan gw seakan terbuka lebar, gambar gw terasa lebih proporsional. Ibarat orang rabun yang diberi kacamata, langsung terang. Gak pake ampun, ET membuktikan betapa pentingnya sebuah kritik!

Di sisi lain, kakak gw sempat lewat ketika ET bertandang. Tak sampai seminggu kemudian, justru kakak gw yang main-main di perumahan ET. Tak banyak yang ia kenal di perumahan itu, hanya bekas teman SMA-nya. Ia duduk-duduk di teras rumah bersama temannya saat ET lewat. Kakak gw bergumam, "Hoo.., ini temannya adik gw, nih!”
Teman kakak gw yg nyaris ketiduran di teras itu bangun. "Hah, d...dia teman adik lo?!"
"Iya.., kemarin gw liat ke rumah gw. Mang knapa?"
Teman kakak gw tertawa tertahan. "Ha...haha! Haha..., dia'kan...dia'kan anak SLB!"

Malamnya kakak gw pulang dan langsung menemui gw. Dia ceritakan semuanya yang ia dengar dari temannya. Gw terbengong-bengong. Apa iya? Kok? Kok bisa ngeritik sehebat itu? Melebihi teman-teman gw yg normal. Hari-hari berikutnya gw coba cari ET dan bertanya-tanya pada teman-teman. Heran, dia nggak pernah muncul lagi hingga hari ini! Gw pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk, gw diajarin anak SLB!

Beberapa tahun kemudian, gw mulai tergabung dalam komunitas komik MKI. Gw sempat menceritakan kisah ini di sana. Mereka yang mendengar tertawa-tawa. Namun, salah satu anggota mencoba meluruskan (mungkin sekalian membesarkan hati gw), bahwa anak SLB itu gak melulu serba minus. Bisa jadi justru serba plus...plus...dan plus! Gw seharusnya menyesal karena ga bs ketemu lagi, bukan menyesal telah diajari.

Ketika itu gw ga lagi peduli apakah dia plus atau minus. Kritikannya kena, dan itu yang gw butuhkan. Dia telah mengajarkan gw untuk mau mendengarkan orang lain, darimana pun sumbernya. Dia meruntuhkan ego gw tapi tidak mematikan. Dia telah berjasa tak hanya pada kemajuan karya gw, tp gw sebagai manusia secara keseluruhan. Kelapang dada-an yg secara gak langsung dia ajarkan membuat gw lebih mudah kompromi terhadap banyak hal di dunia ini.

Thx ET, di mana pun loe berada sekarang, plus atau pun minus...:)
NB : Satu hal yang terus jadi pikiran gw, jika dia serba plus, kenapa teman kakak gw bereaksi begitu? Tertawa yg tertahan..., "Haha...haha..., dia kan..." (Preeeet!)

Selasa, 24 Februari 2015

Bali dan Film Semi 1975

Gw gak tau ceritanya gmn, baru tau juga soalnya...ternyata Bali pernah jadi lokasi syuting film semi terkenal berjudul Emmanuelle, tahun 1975. Ini film sekuel kedua dari Emmanuelle yg total berjumlah tiga. Pemainnya cantik sekali, Sylvia Kristel (udah gak ada, 2012). Di film ini, Sylvia dkk naik truk bersama rombongan siswi SMP beserta gurunya. Para siswi bernyanyi lagu Indonesia... Lalu sama-sama nonton tarian kecak yg mengagumkan. Rupanya, transportasi di Bali saat itu truk beneran, seperti ngangkut pasir, hehe...
Film ini tergolong kontroversial untuk zaman itu, di mana sex, drugs, rock n roll jadi simbolnya....Sekarang? Gak tau juga, terserah sampeyan :). Masalahnya, pemerintah Orba kok bs ngizinin, ya???

Kamis, 04 Desember 2014

Thriller Movies & Erotic Thriller

Eh, tau gak…dari remaja gw sudah tertarik film2 seperti ini...

Doeloe, setelah TV swasta lepas dari dekoder, RCTI dan SCTV sepertinya memilih "jalan" yang berbeda dalam hal penayangan film. Yang seneng film fantasi, action, superhero, silakan tunggu di RCTI. Sementara SCTV, entah mungkin kalah bersaing atau kalah cepet, mereka sepertinya kemudian konsen ke film-film yang justru lebih gw tunggu, thriller drama kriminal. IMDB tidak menyebut secara spesifik, biasanya disebut Crime, Thriller, Drama. Kadang ditambah Romance. Kalau kalian googling, Crime Movies, itu bias sekali. Kalo ketik Thriller Movies, yang muncul sebagian besar adalah Gore atau horror movies. Kalo ketik Drama Thriller, film bernuansa politis bisa muncul. Kalo ketik Thriller saja, yang muncul Michael Jackson, hehehe…..Genre ini memang nggak seperti superhero yang udah berarti jagoan-jagoanan berkemampuan lebih. Atau horor yang udah jelas hantu-hantuan.
Thriller drama kriminal populer sekali tahun 90an, Yah, gak aneh, produk 90an disuka anak yang tumbuh tahun 90an juga. Bahkan Thriller drama kriminal kemudian mempunyai cabang, yakni erotic thriller, berkat kesuksesan Basic Instinct. Erotic thriller dari esensi cerita sama aja dengan thriller drama kriminal, bedanya unsur erotisnya diperbanyak. Sayangnya kemudian, produser2 kelas menengah/bawah latah ikut2an. Namun, skripnya caur dan hanya menonjolkan adegan seksnya saja. Tetapi pada dasarnya semua sama, tinggal berapa porsi adegan syurnya , sekuat apa skripnya, dan siapa aktornya.

Gw kasih clue tentang film-film seperti ini. Hampir semua aktris besar, pernah membintanginya. Tentu saja yang Thriller drama kriminal, bukan yang erotic thriller.
Nicole Kidman, Julia Roberts, Angelina Jolie, Michelle Pfeiffer, Jodie Foster, semua....Tante-tante itu, minimal sekali, pasti pernah meranin tante-tante (halah!). Maksudnya, peran keseharian dari mereka yang berstrata (biasanya) menengah ke atas.
Misalnya, ibu rumah tangga yang bahagia dengan suami dan anak. Tapi kemudian hadir orang ketiga yang mencoba merusak kebahagiaan itu. Orang ketiga itu, biasanya juga bukan orang jauh. Bisa bekas teman sekolah, teman kantor, tetangga,supir, tukang kebun dll....

Yah, cerita-cerita semacam itulah...Dulu marak sekali, banyak pilihan. Sekarang sepi…, tapi suatu saat pasti kembali lagi:)

Rabu, 29 Januari 2014

Escape From Alcatraz (1979)



Belum lama ini nonton lagi Escape From Alcatraz. Dulu pernah nonton, tp kurang menghargai apa yang terkandung di dalamnya. Sekarang? Lumayan, makanya gw tulis...

Belakangan memang jadi demen film tentang penjara, meski amit-amit ya, kalo sampe bermalam di sana. Demen bukan berarti mau merasakan, hanya ingin memperluas pengetahuan aja. Film tentang penjara lainnya yg patut dicermati adalah The Shawsank Redemption (1994). Berbeda dengan The Shawsank Redemption, Escape From Alcatraz adalah kisah nyata.

Dalam Escape From Alcatraz, kita dikenalkan pada penjara terkejam di AS.
Jika kamu melanggar aturan dalam masyarakat, maka kamu dikirim ke penjara. Jika kamu melanggar aturan penjara, maka kamu dikirim ke Alcatraz. Begitulah ucapan "selamat datang" kepala penjara saat Frank Morris (Clint Eastwood) pertama kali tiba. Hal lain yang membedakan, di Alcatraz tidak ada remisi dan satu kamar hanya diisi seorang napi...

Alcatraz merupakan sebuah pulau tak jauh dari San Fransisco. Ada sebuah teluk yang menjadi pemisah. "Track record"-nya belum pernah ada napi yang berhasil melarikan diri dari lembaga itu. Memang, kota San Fransisco tidak terlalu jauh, bisa saja seseorang berenang melintasinya. Namun dinginnya udara dipercaya akan membekukan tubuh hanya semenit saat di dalam air.

Frank Morris bukan orang yg mudah jiper dengan keangkeran Alcatraz. Dia segera mendapat teman karena perangainya yang tegas, termasuk caranya menghadapi jagoan penjara gemuk yg homo, yang makin nafsu justru setelah ditolak. Morris mempelajari semua kemungkinan untuk bisa melarikan diri. Ia mengontak temen-temennya yang bekerja di bengkel untuk dibuatkan macam-macam alat dan diselundupkan ke selnya. Termasuk cara membuat topeng-topengan dari karton. Kebetulan, sebelumnya ia mengetahui dinding-dinding penjara sudah mulai rapuh dimakan air laut. Itu sebabnya, ia yakin meloloskan diri bukan hil mustahal.

Disamping itu, di tengah ketegangan, kita sedikit dihibur dengan aktivitas napi yang punya hobi melukis. Ternyata ada kelonggaran juga di sana, napi boleh sesuka hati melukis. Terbayang juga, mungkin boleh juga bikin komik di situ. Kalau gw ada di sana, gw pasti tetap membuat komik. Dan dalam waktu tertentu editor gw panggil, kita asistensi di penjara. Asyik juga, ya. Apalagi, di sel itu, kita hanya sendirian. Bagi yang punya hobi sebenarnya, Alcatraz rasanya bukanlah tempat yg terlalu menyeramkan...
Sayangnya, kembali lagi ke kisah di film, kepala penjara tak senang ketika wajahnya dijadikan objek lukisan. Kebebasan si seniman untuk melukis dicabut yang berujung rasa frustrasi, sehingga pelukis itu memotong jari-jarinya.

Rencana Morris untuk "cabut" makin matang setelah ia berhasil membuat topeng-topengan. Dan juga tambahan teman yang punya niat serupa. Meski caranya kurang masuk akal, termasuk menggergaji besi di loteng tanpa didengar penjaga, Morris dkk sampai juga ke pantai dan berenang menuju San Fransisco dengan pakaian jadi-jadian hasil kerja di bagian konveksi. Seluruh staf penjara dan Kepala, baru mengetahui ulah Morris keesokan paginya. Tak pernah ditemukan bukti Morris dkk berhasil atau gagal melintasi teluk tersebut. Morris dkk hilang hingga hari ini. Dan akibat ulah mereka, tak sampai setahun kemudian (1963) Alcatraz resmi ditutup.

Like Father Like Son

Bokap gw orang yg keras, sewaktu muda. Sekarang sudah sepuh. Di usia lansianya, gw perhatikan dia mudah sekali terenyuh. Gak tau kenapa, pokoknya ada sesuatu yang menyentuh hati, dia mulai sesenggukan. Jika nonton film, ada tokoh yang nekatdemi menyelamatkan sapa gitu, dia mulai kedengaran berair hidungnya, alias meler ('snif'). Kami biasa nonton bersama dan posisi duduk gw biasanya sedikit lebih di depan, karena gw yg pasang-pasang DVD. Jika dia mulai meler, gw sedikit buang muka sambil melet. Gitu aja mewek, batin gw. Cuma film, kok...

Sekali waktu gw jail. Gw sengaja ajak dia nonton film yg emang penonton "dipancing" untuk mewek. Film itu inilah dia, Evelyn (2002) yg dibintangi Pierce Brosnan. Brosnan berperan sebagai Desmon Doyle, pengangguran yang ditinggal istrinya. Ia harus menanggung hidup 3 anak yang masih kecil-kecil, salah satunya Evelyn. Karena dia nganggur, pemerintah memerintahkannya untuk memberi hak asuh Evelyn pada gereja hingga hidupnya membaik. Ternyata, selama diasuh oleh suster-suster, Evelyn mendapat perlakuan buruk. Hal ini membuat Desmon bertekad melawan ketentuan pemerintah. Karena ia sangat miskin, maka perjuangannya menjadi amat berat. Tapi perjuangannya yg maha berat justru diendus pers yang kemudian menyiarkannya ke seluruh negeri (Irlandia). Desmon mendapat dukungan luar biasa dari masyarakat, bahwa yg paling berhak mengasuh seorang anak adalah orang tuanya sendiri, sesulit apa pun kondisinya.

"Kejailan" gw muter film ini awalnya berhasil. Tapi sesenggukan yang terdengar di belakang gw, ikut menghanyutkan perasaan gw sendiri. Tanpa terasa, alih-alih melet, gw juga meler. Dan bahkan gw sibuk ngapus air mata yg menetes (huaaa....!). Buang mukanya sih ttp, tp sibuk menyeka air mata sendiri. Setelah film habis, kami tak membahasnya. Masing2 pergi begitu saja...

*Ya, kan kami laki2...tidak boleh begitu dong :P*

Selasa, 17 Desember 2013

The English Teacher (2013)



Cinlok; Guru--Mantan murid--Murid....

Beberapa hari yg lalu nonton The English Teacher. Sebagian besar isinya, gw merasa mirip dengan kehidupan kita, atau gw yg ngakunya komikus atau penulis ini. Setidaknya ada tokoh yang, membuat (karya), menawarkan /memublikasikan, dan menunggu impactnya. Konflik terbangun saat mereka mencoba merealisasikan gagasan yg sudah disepakati bersama.

Film ini berkisah tentang guru sastra Inggris di sebuah SMA bernama Linda Sinclair ( tante Julianne Moore), guru yang sederhana, berdedikasi, setia pada profesi, menarik namun anehnya masih sendiri .
Linda memiliki mantan murid, Jason, yang ketika menjadi siswanya Jason ia kenal amat berbakat menulis. Terakhir Linda mendengar Jason mencoba peruntungannya ke New York.
Linda dan Jason bertemu lagi dan Jason bercerita bahwa ia gagal menembus persaingan di New York. Tetapi yang menjadi kendala bukanlah kemampuannya melainkan restu ayahnya, Will. Will menginginkan anaknya meniti karir di dunia hukum. Kemauan Will membuat Linda prihatin. Ketika kebetulan bertemu, Linda mengkritik keras keinginan dokter ini membelokkan masa depan anaknya.

Pada kesempatan lain Linda mendapat kesempatan membaca naskah drama Jason, yang gagal di New York itu. Linda menyimpulkan karya Jason amat luar biasa. Ia mengusulkan agar naskah ini dipentaskan di sekolah. Jason setuju dengan rencana itu. Tapi Linda menyembunyikan fakta bahwa Kepala Sekolah tidak setuju naskah Jason dipentaskan secara utuh. Kepsek minta bagian akhir dibuang saja, karena tak pantas ditonton remaja SMA. Linda menyanggupi, namun ia memilih tidak mengatakannya karena takut Jason ngambek , ia lebih senang membiarkan saja masalah ini diurus belakangan.

Latihan pertama tak berjalan sukses, karena Jason ternyata bukan penulis yang berjiwa besar mendapat kritikan dari salah satu pemainnya. Ia seperti anak kecil yang ngambek sampai mewek. Akibatnya Linda menjadi sibuk mengangkat moril Jason agar seperti semula (ini adegan nggak banget, kalo gw ada di situ celananya gw plorotin, gw lempar ke atap).

Di tengah persiapan, Jason terus “diganggu” oleh ayahnya, Will. Tindakan Will membuat Linda simpati. Dari simpati berubah menjadi cinta. Jason pun tak kuasa menerima kasih sayang mantan gurunya ini, mereka kemudian bercinta di salah satu kelas kosong. Tetapi hubungan yang sudah terjalin tak membuat Jason berpikir untuk terus bersama mantan gurunya. Ia kemudian mendekati pemeran utama wanita dalam drama yang mereka siapkan, Halle Anderson (Lily Collins) yang jelas-jelas masih segar dan cantik. Meski cukup mengerti, namun Linda cemburu juga. Tanpa Linda sadari ia banyak memojokkan Halle dengan alasan-alasan yang dibuat-buat. Ketika ia memergoki Jason dan Halle bermesraan, Linda tak tahan lagi. Ia mengadukannya ke Kepala Sekolah dan meminta Halle untuk segera dikeluarkan. Tapi Halle ternyata sudah siap. Ia punya bukti bahwa Linda juga pernah ‘bobok-bobokan’ dengan Jason. Ditambah lagi, Kepala Sekolah memergoki latihan mereka tak sesuai dengan perjanjian, adegan yang dianggap tak pantas belum dibuang. Berantakanlah semuanya, Linda marah pada Halle, Halle marah pada Linda, Jason marah pada Linda karena naskahnya di’rusak’ dan Kepala Sekolah marah pada semua….Dan Linda dipecat! 

Hehe, gimana akhirnya?

Akhirnya Linda dipanggil lagi untuk mengatasi persiapan pentas yang makin berantakan. Ia mengubah bagian akhir dari drama, yang tak boleh dipentaskan itu, dan Jason akhirnya mau menerima karena sambutan yang mereka dapat sangat memuaskan…:)

Seek a Friend for The End of The World (2012)

Sekarang giliran pelem komedi romantis favorit...

Pilihan gw ini, Seek a Friend for The End of The World (2012)
Premisnya ; Apa sih, tuh kiamat, jika sudah menemukan cinta sejati? Hehe...boljug...


Semangatnya (halah), semangat 2012, tahun kiamat. Jadi, dunia sudah dipastikan kiamat dalam 21 hari ke depan. Sikap masyarakatnya lucu, ada yg diam saja/pasif, ada yang nangis, ada yg memutuskan bunuh diri, dll...tp tak ada yang menunjukkan emosi secara meledak-ledak dari para tokohnya.

Dodge (Steve Carell) termasuk yg pasif, sebab ia baru ditinggal pasangan. Ia bertemu tetangganya, Penny (Kiera Knightley) yang asal jeplak lagi polos. Penny rupanya tanpa sengaja sering menahan surat-surat dari pacar Dodge yg seharusnya dialamatkan ke kamar Dodge. Dodge awalnya kecewa, namun mereka menjadi kompak sejak terjadi kerusuhan di sekitar apartemen mereka. Mereka lalu sama-sama ingin mencari orang-orang terkasih sebelum kiamat benar-benar datang...

Ternyata, di sepanjang jalan, Dodge dan Penny menemukan banyak kecocokan. Mulai tumbuh benih-benih cinta dari dua orang berbeda usia cukup jauh ini. Banyak kelucuan terjadi sepanjang jalan, dari orang bunuh diri dengan caranya yg unik, menghadiri pesta seks di cafe sampai masuk bui karena membawa mobil curian. Mereka saling bantu untuk menemukan orang-orang yang mereka kasihi, di tengah-tengah dunia yg sudah mati sebelum waktunya...
Akhirnya, ketimbang susah-susah mencari orang terkasih, yang belum tentu memberikan respon sepadan, mending saling berkasih saja satu lain, hehe...

Dodge dan Penny akhirnya memilih pulang dan menanti kiamat bersama, tanpa rasa takut, karena kebahagiaan menemukan cinta sejati mengalahkan segalanya...

Jumat, 06 Desember 2013

What Maisie Knew (2012)


Ketika Ortu Jadi Budak Kesibukan

Maisie (sekitar 3 tahun), adalah satu dari sekian banyak anak korban perpisahan orang tua di Amrik. Maisie (Otana Aprile) terlihat amat menggemaskan, lucu lagi pintar. Orang tua Maisie adalah Susanna (Julianne Moore) dan Beale (Steve Coogan) yang memiliki profesi amat bertolak belakang. Susanna seorang artis musik tenar sementara Beale pebisnis yang kerap ke luar negeri. Keluarga mereka dilengkapi Margo, baby sitter yang cantik.

Ketika bercerai, hak asuh Maisie jatuh ke tangan Beale. Tak disangka, Margo telah menunggunya di kediaman Beale. Karena sudah mengenal Margo, Maisie senang-senang saja. Margo kemudian menikah dengan Beale yang otomatis menjadi ibu tiri Maisie. Tak mau kalah, Susanna juga memutuskan menikah dengan Lincoln, seorang bartender yang penampilannya jauh dari seimbang dengan Susanna. Kedudukan mereka kini 1-1 yang membuat hakim memutuskan hak asuh Maisie secara bergilir, setiap 10 hari. Jadi, 10 hari ini Maisie diasuh ibunya, 10 hari kemudian bapaknya, begitu seterusnya.

Yang jadi masalah, kedua orang tuanya tetap orang yang super sibuk. “Budak” pekerjaan-lah, ambisi tai kucing yang membuat Maisie sama saja saat diasuh ibunya mau pun bapaknya. Untungnya, baik ibunya maupun bapaknya menikahi orang-orang yang biasa-biasanya, yang tak terlalu sibuk. Margo hanyalah wanita biasa tanpa pekerjaan yang jelas, sementara Lincoln hanyalah bartender. Dan untungnya lagi, mereka berdua orang-orang baik yang dalam film-film Hollywood biasanya justru kebalikannya. Terutama Lincoln yang lebih mirip kurir narkoba. Tetapi mereka amat menyayangi Maisie. Mereka inilah yang secara bergilir ditugasi menjemput Maisie dari sekolah atau pun menemaninya bermain.

Kedekatan Maisie dengan kedua orang tua tirinya membuat kedua orang tua kandungnya cemburu. Susanna dan Beale bukannya berterima kasih dengan Margo dan Lincoln tapi justru sebaliknya, mencampakkan pasangan masing-masing. Butuh rasa cinta yang tulus dari Margo dan Lincoln untuk menerima Maisie kembali ketika gadis cilik ini akhirnya terlunta-lunta di antara kesibukan Susanna dan Beale. Tentu saja berat merawat anaknya ketika orang tuanya justru melontarkan cacian hina ke wajah. Tapi itu yang dilakukan Margo dan Lincoln. Alasannya cuma satu, cinta pada Maisie yang terlanjur terbangun tak bisa hilang hanya karena hinaan orang tuanya.

Seiring berjalannya waktu Margo dan Lincoln saling jatuh cinta. Dan Maisie akhirnya berani memilih tinggal bersama mereka ketika Susanna datang menjemput…

Anak kandung sesungguhnya hanya titipin dari yang Di Atas, orang tua sesungguhnya? Itu soal lain lagi…:)

Kritik; "Musuh yang Dirindukan"



Beberapa hari lalu, waktu nggak bisa tidur, iseng-iseng baca tulisan AS Laksana, cerpenis, di Ruang Putih, Jawa Pos, terbitan 1 Desember 2013. Judulnya sebenarnya biasa saja, “Orang-Orang yang Sungkan”, namun isinya sangat menarik, menurut gw….


Sebenarnya, tulisannya dibuka dengan aura curhat, bahwa karyanya kalah bersaing dengan karya Leila S Chudori yang berjudul “Pulang” dalam anugerah Kathulistiwa Literary Award 2013. Kalah-menang sebenarnya soal biasa, tetapi tidak jika sudah melihat ke ranah sosmed. Leila S Chudori punya basis pendukung yang kuat bertabrakan dengan “suporter" Laksana yang juga tak sedikit. Keduanya sama-sama mengklaim lebih baik, dan bahkan segalanya kemudian menjurus panas. Kedua penulis yang dibicarakan tak sekali pun ikut komentar, dan itu sudah benar, namun seorang temannya kemudian berkomentar yang seolah memanggilnya untuk ikutan komen sekaligus menyindirnya, bahwa dia sering berpendapat tak masalah objek yg jadi pembicaraan ikut komentar, terbuka aja, bebas. Tapi ketika ia sendiri yang menjadi objek, dia memilih bungkam.

AS Laksana kemudian merujuk ke situasi di barat yang lebih terbuka dan menerima kritik sewajarnya, meski belakangan juga mulai bergeser. Ia sepertinya “rindu” atmosfer seperti itu. Ia memberi contoh komentar Mark Twain atas karya Edgar Allan Poe.

“Prosa Edgar Allan Poe tidak bisa dibaca—persis plek dengan prosa Jane Austen!”

Contoh lain dari Oscar Wilde tentang George Meredith; “Gaya menulisnya semrawut! Sebagai penulis ia ampuh dalam segala urusan kecuali bahasa. Sebagai novelis ia bisa mengerjakan apa saja kecuali bercerita. Sebagai seniman ia segalanya kecuali dalam soal pengungkapan gagasan.”

Laksana menilai, semua komen ini selain menarik dapat pula memancing tawa layaknya melihat seseorang yang mendadak mendapat kesialan.
Ia kemudian menganalisa, mengapa kondisi di kita berbanding terbalik dengan mereka-mereka yang ada di barat. Mengapa orang kita penuh dengan kesungkanan?
Ini jawabannya ( gw ambil beberapa aja, yg paling “nendang”) ;
• Karena takut dianggap dengki pada karya orang lain. 
• Karena takut bahwa kritiknya akan merusak pertemanan.
• Karena ada perasaan tidak pantas menyerang karya sesama penulis.
• Karena takut dimusuhi oleh orang-orang lain, terutama kelompok pendukung penulis tersebut.
• Karena takut pada anggapan bahwa penulis yang mengkritik karya penulis lain diam-diam tengah mengunggulkan karyanya sendiri.

Gw pribadi melihat hal serupa pun terjadi di scope kita, para penulis komik. Gw bisa menambahkan, kehati-hatian yang luar biasa, mulutmu harimaumu, lebih baik cari aman dengan banyak teman, pencitraan lebih bisa diterima ketimbang “frustrasi” , bahkan ada yg berpikir sebaiknya jangan dikritik, nanti jadi bagus. Diamkan saja, itu yang terbaik bagi kita.....(haha!)

Sebenarnya dulu di komunitas ada yang menjalankan fungsi ini, para pengamat, yang ketika ketemuan langsung minta izin untuk ngeritik. Tapi belakangan mundur teratur, karena tiap bicara musuhnya nambah.

Waktu gw di Indira, editor gw mengumpulkan semua kritikan yang ia terima dan membahasnya ketika kami ketemuan. "Perintah"nya adalah, buatlah seri berikutnya berdasarkan kritikan ini....

Betapa nikmatnya jika bisa demikian ya...bagai mendapat lentera di lorong gelap. 

Fungsi kritik memang harus ada dan dibangun. Semua sadar akan akan hal ini, penulis paling bego sekali pun. Hanya saja, seperti juga obat nggak ada kritik yang manis. Semua kritik selalu pahit. Akhirnya kritik menjadi "musuh yang selalu dirindukan".  Di sisi lain, si pengkritik juga harus bersikap dewasa. Ketika kritikannya dijawab oleh yg dikritik, si pengkritik jangan jadi lebih “ngambek” daripada yang dikritik, hehe....Tetaplah kembali untuk ngeritik lg 

Gw bisa menulis begini, tapi ketika menerima kritik bisakah menerima dengan biasa saja? Entahlah, gw toh juga bagian dari kalian....

*Sekedar buat baca2…:)*

Kamis, 19 September 2013

I Spit on Your Grave (movie)


I SPIT ON YOUR GRAVE 1978, 2010, 2013

Dah lama gak nge-review pelem. Lebih ke spoiler sebenernya, gpp…asek2 aja.

Gw suka film thriller. Terutama ditonton di jam2 orang kebanyakan tidur. Dijamin gak bakal ikutan tidur dah…:D

Di antara film thriller, gw pernah nonton I Spit on Your Grave. Aslinya ini film jadul, produksi tahun 1978. Ketika dirilis film ini tergolong kontroversial karena gagasannya dan adegan-adegan sadis yang disajikan. Namun film yang juga punya judul lain Day of The Woman ini seakan menjadi pionir untuk film sejenis yg kemudian sedikit banyak dicontek produksi lain, termasuk oleh sineas kita.

Idenya sederhana, sekelompok pemuda memerkosa seorang gadis, kemudian gadis itu melakukan pembalasan dengan menjerat satu persatu pemuda yg memerkosanya. Perkosaan yang ditampilkan begitu brutal, bejat, tegel, di titik terendah derajat manusia, dan bahkan lebih buruk dari binatang. Sampai di sini diharapkan penonton mendukung pembalasan setimpal, yang sebenarnya dalam kehidupan nyata kita tak diajarkan begitu. Tapi itulah film, sebagian dari kita’kan ingin mengakhiri film dengan rasa puas. Persetan dengan hukum

Tahun 2013 ini diluncurkan I Spit on Your Grave 2, setelah tahun 2010 kita disuguhi versi remake tahun 1978. Sempat muncul pertanyaan, apa ceritanya sama? Kalo sama aja, kenapa bikin yang kedua? Dan ternyata betul, produksi yang terakhir ini terasa kurang greget dibanding yang 2010, apalagi yang 1978.


Dalam film pertama, baik versi 1978 mau pun 2010, kisahkan seorang penulis wanita mencari ketenangan dengan pergi ke daerah terpencil. Di tengah jalan ia diikuti hingga ke cabinnya oleh sekelompok pemuda dan diperkaos rame-rame. Setelah memerkosa, sadar kelakuan mereka begitu buruk, para pemerkosa sepakat membunuh korbannya. Namun sebelum menghabisinya, para pria itu mencoba menikmati momen-momen di mana sang wanita merasakan hancurnya harga diri, sakitnya hati, merosotnya mental mau pun ketidakberdayaan fisik. Hal ini digambarkan ketika para pria hanya mengamati…dan hanya mengamati, korbannya berjalan dengan tubuh tanpa sehelai benang pun, penuh luka, wajah lebam, terhuyung-huyung tanpa arah, tanpa harapan, siapa pun yang mengalami pasti berharap segera mati saja.

Di film kedua , seorang gadis pelayan restoran mencoba peruntungan dengan menjadi model. Hanya saja karena bokek, ia mencari fotografer gratisan untuk dibuatkan portfolio. Fotografer minta ia buka pakaian, terus terang sajalah, tapi ia menolak dengan alasan moral. Tentu saja si tukang foto jadi gemes. Masak semua…muanya dianggap gratisan? Mbok ya buka-buka dikit sebagai kompensasinya. Karena tetap menolak, malam berikutnya asisten fotografer mendatangi flatnya dan memulai segalanya yang menjadi inti cerita film ini.

Beberapa adegan di film kedua terkesan ingin menampilkan kebejatan yang maksimal tapi jadi malah jdi minimal. Selain cara jebak para pelaku yang terkesan biasa-biasa aja, kalo gak mau dibilang terlalu mudah, cara-cara menghukum pelaku terkesan dipaksakan. Misalnya saja, di akhir film, penis (soree..:D) pelaku dijepit sebuah alat yg jika alat itu diputar, penisnya akan makin terjepit. Hanya saja karena nggak mau terang-terangan menampilkan alat kelamin pria, kita yang nonton bertanya-tanya, diapain tuh? Apaan, tuh? Batang atau biji? Ga jelas, hehehe…sekalian aja gak usah di wilayah itu

Ada lg beberapa kekurangan di film kedua dibanding yang pertama. Tp sudahlah, toh ini hanya sekedar “teman” di malam yang kian sunyi…

Dah, ya!

Senin, 19 Agustus 2013

Manga Sinetron

Temans, kebetulan nemu tulisan ini di re:on

Gw coba tanggapi, sekedar pengisi libur lebaran...

Ini masalah yang sebenernya udah diapungkan sejak zaman MKI masih dipimpin Wahyu Sugianto, sekitar tahun 99-2000 dengan istilah local content kala itu, dan ternyata gak juga berakhir sampai hari ini. Beng Rahadian, dengan Akademi Samalinya sebenernya udah menutup diskusi ini sekitar tahun 2006, di salah satu acara klub komik Aksara, dengan menyimpulkan bahwa komik Indonesia adalah komik yang dibikin oleh orang Indonesia, masa bodo isinya kayak apa. Tapi ternyata Beng sebagai penjaga gawang klub tak kuasanya juga menahan “gempuran” serupa sehingga kebobolan dan isu ini menebar lagi ke mana-mana. Kini re:on sendiri mengalami kegundahan yang sama.

Ini masalah kita bersama yang seharusnya juga dipecahkan secara bersama, sepanjang masih ngaku orang Indonnesia. Gw cukup gembira pertanyaan ini keluar dari mulut re:on yang sejauh ini gw liat beratnya ke manga. Ok, kita telusuri yuk, kenapa ini bisa terjadi, dan mudah-mudahan gw salah.

Gw coba sesingkat mungkin sebab keknya rata-rata temen2 di socmed ga suka tulisan kelewat panjang. Perlu diinget, ini bukan wujud sentimen terhadap aliran/ pihak lain, ini cuma analisa kenapa hal ini bisa terjadi.

Masalahnya menurut gw karena keran manga gak ada yang nutup. Terus aja membanjiri rumah kita. Gayung buat nguras gak sebanding dengan keran yang terbuka di mana-mana, terutama di Palmerah. Para pemilik modal gak sabar menunggu lama-lama untuk memodali gaya selain manga. Bahkan sekarang ditambah mudahnya akses ke manga online, yang ketika MKI dipimpin Wahyu atau Beng nutup diskusi hal itu belum ada.
Lalu pertanyaannya, apa manga merupakan biang kerok hilangnya keindonesiaan kita? Gak bisa disimpulin gitu juga. Kelakuan para pemimpin kita pun bisa juga jadi penyebab utamanya. Skor 0-7 PSSI di lapangan pun ikut andil. Intinya, kebanggaan kita sebagai bangsa memang hilang di semua sendi kehidupan kita. Tetapi dalam konteks komik, mungkin benar jika manga memengaruhi mentalitas generasi komikus kita.

Konsep manga adalah konsep sinetron. Semua bagus, semua indah. Tak ada kemiskinan, misalnya, tak ada yang buruk rupa, semua usia tokohnya muda (bahkan anak-ibu sebaya), dengan proporsi tubuh yang ideal semua. Pendek kata, sangat menjual mimpi, dan ini tak ubahnya sinetron kita. Sinetron kita pun dihujat hal yang sama, hilangnya keindonesiaan. Bagi para remaja (pasar terbesar penikmat komik), konsep ini sangat cocok. Bukankah bagi remaja hidup ini sedang indah-indahnya? Tak ada kewajiban cari uang, tak ada beban sosial, tak ada kebutuhan yang mendesak dsb….tugas utamanya cuma satu, belajar (dan pacaran, indah’ kan?).
Selain penikmat manga, para remaja itu, juga terdorong membuat tokoh para idola mereka. Tentu saja, siapa yang bisa menghalangi? Siapa yang bisa mengingatkan? Tidak ada. Tak heran di usia belasan tahun mereka sudah jago membuat karakter idolanya. Ini maksud gw keran yang terbuka di mana-mana sementara kita ngurasnya cuma pake gayung.
Lalu, bagi mereka yang ingin keluar dari situasi ini bagaimana caranya? Terus terang, gw juga gak tau. Mau ngarahin mereka ke realis? Bisa saja, tapi realis biasanya baru ditemukan di bangku kuliah, kalah cepat dari “pendidikan” manga yg udah dimulai sejak dia bisa baca. Selain itu, realis itu berat sekali bagi mereka yang terlanjur gak suka. Nggak jarang komikus realis butuh waktu sampai usia 30 tahun supaya gambarnya enak diliat. Itu pun kadang masih “aneh”. Bagi komikus realis usia 25 itu pemula, sementara bagi mangaka itu jawara. Tetapi betul, jika gambar ingin terlihat benar-benar merepresentasikan diri sendiri, realis adalah jalan keluarnya. Gak perlu jadi mahasiswa seni rupa, cukup mau melakukannya maka ciri khas dirinya akan muncul sendiri.
Bagaimana dengan style lain selain realis? Terus terang, gw menunggu “empu”nya style lain itu untuk berkomentar, karena gw tidak menekuninya.

Jadi apa jawabannya? Nggak ada, karena menyumbat keran itu begitu saja juga bukan tindakan bijak! Kampanye? Itu perlu waktu lama selain perlu dana. Memang begitulah remaja, memang begitulah pemula. Biarkan saja mereka hura-hura sampai alam menyeleksinya. Biasanya yang gak bawa keindonesiaan sama sekali, karirnya gak lama, kok. Bentar juga ilang….berganti dengan yang baru untuk mengulang kesalahan yang sama.

Nah, di tengah situasi serba buntu begini, mungkin secara gagasan/ide gw masih bisa kasih jalan keluarnya. Mungkin ada baiknya gw mengajak para generasi baru mengenal apa dan siapa itu Lupus.

Tokoh fiksi terakhir yang lahir di negeri ini dan sukses adalah Lupus. Betul itu cerpen/novel, bukan komik. Tapi pada dasarnya sama. Sama-sama diperuntukan untuk remaja. Lupus kala itu amat mewakili remaja 80-90an. Kesuksesan Lupus membekas bagi pembacanya hingga mereka punya anak remaja. Lupus berlatar belakang sosial yang mirip dengan kebanyakan dari kita, menengah. Indonesia memang serba menengah, namanya juga negara berkembang. Indonesia bukan negara maju. Jadi buatlah yang serba menengah jika ingin kelihatan keindonesiaannya. Misalnya, bokek gak bisa beli pulsa, pulang kuliah jalan kaki, kecopetan, dipalak, pacaran ngumpet-ngumpet, dikejar-kejar bokapnya pacar dsb. Itulah Indonesia. Komikus Jepang gak bisa menyediakan itu. Selain beda kultur mereka juga beda tingkat pendidikan dan ekonomi. Mereka serba bagus, serba indah, baik dari ide maupun visual yang lagi-lagi konsep sinetron.

Begitulah temans, karena yang tahu masalah kita adalah kita sendiri, bukan orang Jepang.


Halo Reonites, ngomong2 Reon kan sering dapat masukan untuk bikin komik yang style gambarnya khas Indonesia. Nah Reon jadi pengen tau nih, style gambar khas Indonesia yang bagus menurut kalian itu yang kayak gimana? Kalo bisa sekalian sertakan link gambar yang dimaksud yah. Makasih masukannya

Jumat, 19 Juli 2013

Enjah : Variasi yang Menyegarkan



Enjah : Variasi yang Menyegarkan


Judul: Enjah

Penulis: Beng Rahadian/ Illustrator: Tomas Soejakto

Kategori:Novel Grafis

Penerbit: Cendana Art Media

Tahun: 2013



Jujur saja, sebenarnya gw agak khawatir untuk mengomentari komik ini. Bukan apa-apa, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh para pengamat, jadi obyektifitasnya lebih terjamin.  Mereka juga biasanya lebih cermat, lebih tajam analisanya. Sementara gw, gw khawatir terasa kurang etis jika bicara terlalu jauh…(kurang etis tp tulisannya panjang gini…:P)

Tapi, baiklah, sudahlah, dilihat dari sisi baiknya saja, tapi coba renungkan dari sisi buruk (:P). Toh, para pengarangnya sudah meminta gw untuk berkomentar.

Pertama yang gw lakukan, ketika membuka lembar demi lembar dari buku yang gw beli…, gw beli ini adalah….mencari kelemahannya.  Seperti mas Suryorimba yang membolak-balik halaman, gw pun melakukannya. Tapi gw mencari kelemahannya. Secara keseluruhan tidak terlihat. Tapi pasti ada!
Sayang hingga ketika memutuskan untuk mereview-nya, gw belum menemukannya…
Tapi pasti ada!

Ok, kita mulai baca saja. Bukankah dengan begitu kita bisa segera…,segera melihat bolong-bolongnya? :P
:Dari segi cerita, sebenarnya gw sudah lama sekali tak membaca komik horor. Mungkin terakhir kali membacanya di kelas 1 SD. Meski begitu, untuk film, gw sering menyaksikannya. Hanya saja yang gw dapatkan hanyalah kejutan-kejutan tak berkesan, bukan sesuatu yang menghantui tidur. Mungkin karena selama ini gw nonton film horor barat yang notabene-nya berbeda kepercayaan dan budaya dengan gw. Menurut gw, cerita horor sangat erat kaitannya dengan dua hal itu, minimal dengan kepercayaan.
Bagaimana dengan Enjah? Terus terang gw cukup merasakan ketegangan itu. Dan yang menarik, setelah Rama membasuh wajahnya dengan air baskom, mendadak ia menjadi orang ‘pintar’. Ternyata di sekelilingnya banyak sekali ‘peristiwa’ yang terjadi. Gw yakin kita sendiri pun saat ini mengalami hal itu, hanya saja kita tak bisa melihatnya. Nah, dari sini gw rasa komik ini mampu membangkit atmosfir horor, terutama bagi para penikmatnya.

Kesan yang lain dalam membaca Enjah, gw menilai mereka berdua sefaham dengan gw dalam menuangkan gagasan ke dalam visual. Meminimalisir dialog dan memperbanyak rentetan adegan. Gak apa-apa komik jadi tebel, kan itu urusan si pemilik modal. Jadi ini mirip film. Orang menyebutnya filmis. Gaya ini biasa ditemukan di komik-komik Jepang/manga, tetapi syukurlah sang pelukis memakai gaya visual sendiri yang jauh dari bau-bau Jepang.  Memang sebaiknya begitu, ambillah yang perlu dan buang jauh-jauh yang tak perlu.

Hanya saja sayang, dalam Enjah kita perlu waktu lebih untuk memahami gambar. Padahal menurut gw harus sebaliknya, gambar mempermudah segala-galanya. Ini penting, karena begitu halaman-halaman awal terlalui dengan baik, komik itu punya peluang untuk disukai. Tetapi jika halaman awal sudah membingungkan, kita khawatir akan banyak yang meninggalkannya.
 
Sebagai cttn : kecuali halaman 45, di mana ada penumpukan dialog, saling bersahutan. Ini gaya komik lama yang tak pernah gw temui dari komikus “lulusan”manga. Gw pribadi tak ingin ada lebih dari tiga balon dalam satu panel. Lebih dari tiga balon gw anggap panel itu 'mati'.

Kemudian, penulis juga pintar memainkan efek kejut. Terutama penempatan gambar spread. Gw suka komik yang ada gambar spread, di sini ada efek kejut, terlepas temanya apa. Ada totalitas yang lebih biasanya. Beberapa komik, bahkan impor, gw liat lemah dalam hal ini, mungkin karena tipis. Teksnya banyak padahal gambar sudah “nyelonong” memberi clue tentang apa yang terjadi.  Nah, lagi-lagi gaya filmis Jepang punya keunggulan di sini.
Setting komik ini sangat jelas, Yogjakarta. Arsitektur rumah dan gedung sudah menunjukkan. Kadang seperti menonton Losmen bu Broto. Pintu, lemari, jendela persis seperti yang ada sesungguhnya. Sebuah kerja berat tapi mengasyikkan, tentu saja. Gw rasa, gw sendiri tak sedetail itu.


Cttn : Dari penggambaran tokoh makhluk halus dengan menghitamkan mata dan kerutan di sekitar alis cukup menunjukkan komikus ini mengenal ‘medan’. Hanya, gw pribadi lebih suka arsiran yang secukupnya saja. Arsiran yang banyak membuat komik terasa ‘berat’. Untuk pertimbangan pasar ada baiknya sedikit memikirkan selera pembaca yang lain. Toh kalau memang sukanya begitu, bisa ‘mengorban’kan halaman tertentu untuk pol-polan arsir. Misalnya di halaman spread…
Akhirnya, secara umum komik ini sudah sangat baik. Menurut gw, ini variasi yang menyegarkan dari keseragaman jenis komik yang berserakan di pasar. Mudah-mudahan makin banyak yang bisa menerbitkan komik seperti ini, termasuk gw sendiri.

Sebenarnya masih ada hal-hal kecil yang bisa dijadikan keluhan, misalnya glosarium sebaiknya tidak ada kecuali untuk menjelaskan kata yang perlu ruang lebih luas. Jika penjelasan hanya sepatah-dua patah kata sebaiknya catatan kaki saja. Alasannya sederhana, supaya gak bolak-balik dan pembaca bisa langsung 'tancap gas'.
Lalu, kata silahkan seharusnya ditulis silakan. Di KBBI kata dasarnya sila. Menurut gw itu kesalahan tidak seperti kata lihat yang menjadi liat, tahu menjadi tau, cepat menjadi cepet dsb. Perubahan kata menjadi lebih sederhana ini biasanya bisa menunjukkan siapa yang bicara. Apakah anak kecil, orang kecil, orang berpendidikan, pejabat, pelacur dll.  Selebihnya penempatan koma...koma, ya oke deh...ga terlalu fenting.

Kini, haruskah ada pertanyaan?
Ok, jika ada...kenapa ya proses menggambar Angi merupakan yang paling sulit, sementara Tono paling mudah?

Lalu banyak kata yang dicetak tebal, kenapa ya? Gw kira itu tadinya tercatat di glosarium, tapi karena banyak gw pikir tidak mungkin...


Begitulah, temanssss.... mungkin kadang ngawur… Jika terkesan asal, anggap aja ini tulisan penunggu waktu berbuka puasa:)

190713